1. Dismantling Doubts: Predestination & Freewill

Transclude of 18-29
Persamaan antara manusia dan jinn adalah diberikan akal dan hawa nafsu.

Transclude of 6-148

Iradah

Bisikan setan, kenapa jika Allah Maha Menakdirkan, manusia memiliki free will?

Iradah Kawniyyah Kehendak dan takdir yang telah Allah tetapkan dari awal penciptaan sampai nanti hari kiamat.

What is meant by this is the Will of Allah that is all-encompassing over all the events and occurrences that take place. This relates to everything that Allah Wills, His Actions and what He brings into existence. This includes what He loves and what He is not pleased with (such as disbelief or disobedience). And whatever He Wills is according to His perfect Wisdom, His complete Knowledge of the consequences, and His absolute Awareness and Ability over all things.

Link to original
Iradah Syari’yah Kehendak yang sesuai dengan apa yang Allah sukai dan ridhai.

Circular transclusion detected: Clippings/Difference-between-the-Irādah-Kawniyyah-(Universal-Will)-of-Allah-and-the-Irādah-Sharʿiyyah-(Legislative-Will)-of-Allah-―-Correctly-Understanding-the-Decree-of-Allah-and-Avoiding-Doubts.

Allah guides whomever He wills

Transclude of 10-100
Kita tetap harus berusaha menjadi orang yang beriman karena kita telah diberikan akal untuk berfikir.

Humans according to their fate

Ia bertanya, “Lalu apa gunanya beramal?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim, no. 2648)

Link to original
Jangan sampai kita berpikir ‘lalu buat apa hidup ini jika semuanya sudah ada takdirnya’.

Predestination & Free Will

  1. The accountable person is free to choose whether to obey or disobey of his own free will and he will be requited for that.
  2. Allah knows what His slave’s fate will be, and He has written that.
  3. Allah supports and helps His believing slave, and He knows best who is deserving of support and help.
  4. Allah forsakes whomever He will and does not grant support nor help. His support is purely based on His grace , and His forsaking is based on His justice.
  5. The one who is helped is the one who asks Allah for help, because he knows that he cannot do it without the grace of Allah even in a blink of an eye. Even in Al-Fatihah, we continuously ask for help
    Transclude of 1-5
  6. The believing slave affirms the grace of Allah, acknowledges His blessing that He has bestowed upon him, and attributes all goodness and success to him.
    Transclude of 7-43

2. Shaytan’s Scheme: An Insidious Enemy

Transclude of 43-36

Siapa itu shaytan?

Shaytan sebenarnya bisa diartikan sebagai kata sifat yang dimiliki oleh manusia maupun jin.

Turning away from guidance means following shaytan’s path

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan barang siapa yang berpaling dari mengingat Allah yang maha pengasih yaitu al-qur’an, sehingga tidak takut hukumanNya dan tidak mengambil petunjukNya, maka Kami mengirimkan setan kepadanya di dunia yang menyesatkannya sebagai balasan kepadanya karena dia berpaling dari dzikrullah tersebut, setan tersebut menjadi rekan akrabnya yang menghalang-halanginya melakukan yang halal dan mendorongnya melakukan yang haram. Referensi: https://tafsirweb.com/9232-surat-az-zukhruf-ayat-36.html

Methods of Shaytan in Misguiding Humans

  1. Making falsehood appears attractive Example: listening to music ‘may bring relaxation or happiness’, being in haram relationship ‘for the sake of getting to know one another’.
  2. Beautifies the breaking of ties of kinship (silaturahim) Example: painting the institution of family as bad, patriarchy, child free, not wanting to get married, hating on males, toxic feminism.
  3. Giving pleasing names to forbidden things
  4. Going to the extremes in exaggeration and negligence
  5. Procrastination & laziness preventing people from doing good.
  6. Satan focuses on what a person love most and desire
  7. Instilling doubts
  8. Strong drinks & gambling
  9. Idols & magic/sorcery
  10. Human weakness

Trauma Misguidance

1. Budaya Represi Emosi

Budaya zaman kakek-nenek dimana emosi dipendam bahkan tidak diakui dan divalidasi. Kultur ini menyebabkan banyak permasalahan mental yang tidak ditangani dengan baik dari stres kronik, tidak dapat menerapkan batas, dll. Trauma bisa menjadi inter-generational trauma hingga sakit fisik. Trauma ini juga bisa membuat orang mencari pelarian dalam bentuk maksiat.

2. Budaya Obsesi Emosi

Kadang disebut dengan self-obsessed culture, dimana masyarakat berlebihan menyikapi emosi. Hal ini dipengaruhi sekularisme dan individualisme. Hal ini bisa membuat orang menjadi narsis, terobsesi dengan dirinya, traumanya, dan victimhood. Hingga kurangnya mujahadah dan lalai dari agama. Bahkan sampai level menolak kebenaran karena mengutamakan diri sendiri dan hawa nafsu. Salah satu ciri-cirinya merasa paling menjadi korban.

The Regret

Harboring Hope: Holding on to Al-Haqq

Al Haqq … Rahmatnya Allah melebihi murkanya Allah

Do not despair in the mercy of Allah

Az Zummar 53

Dua for purse soul

Doa Rasulullah

Dari Zaid bin Arqam, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا Ya Allah Azza wa Jalla , aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang, serta dari doa yang tidak dikabulkan. Referensi : https://almanhaj.or.id/3771-rasulullah-memohon-perlindungan-dari-ilmu-yang-tidak-bermanfaat.html