Bab 3 - Mengamalkan Tauhid Dengan Sebenar-benarnya Dapat Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab

Pada bab sebelumnya kita sudah mengerti bahwa semua orang yang bertauhid, pada akhirnya akan masuk surga, namun jalannya bisa saja melalui neraka dulu. Pada bab ini, disebutkan cara masuk surga tanpa hisab.

Merealisasikan Tauhid

Tahqiq At-tauhid atau merealisasikan tauhid adalah seseorang mencapai puncak dan tujuan akhir dalam tauhid. Dan para ulama menyebutkan ini hanya bisa dicapai dengan mensucikannya dan menyempurnakannya. Tingkatannya ada 2:

1. Yang hukumnya wajib

Pada saat seseorang meninggalkan:

  1. Syirik besar, karena membatalkan tauhid.
  2. Syirik kecil, karena sangat luas dan tidak semua orang bisa selamat dari ini. Ini adalah perkara yang paling ditakutkan Nabi Muhammad untuk kaumnya

    Maḥmūd bin Labīd -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
    “Hal yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu ria. Allah ﷻ akan berfirman pada mereka di hari Kiamat ketika manusia diberikan balasan amal mereka, ‘Carilah orang-orang yang kalian bersikap ria di hadapannya saat di dunia, lalu tunggulah, apakah kalian menemukan balasan dari mereka?‘”
    [Hasan] - [HR. Ahmad] - [Musnad Aḥmad - 23630]

    Link to original
  3. Bid’ah dan;
  • Di dalam bid’ah terdapat sifat menentang Allah dan Rasul-Nya

Aal-i-Imraan (3:31) 3-31

Katakanlah:“Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Al-A'raaf (7:158) 7-158

Katakanlah:“Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

  • Konsekuensi bid’ah adalah mengikuti hawa nafsu, karena orang yang melakukan bid’ah, beribadah bukan berdasarkan wahyu tapi atas dasar perasaan sendiri.

Al-Qasas (28:50) 28-50

Maka jika mereka tidak menjawab ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

  • Orang yang melakukan bid’ah menempatkan dirinya seolah-olah … atau seakan menuduh nabi belum menyampaikan risalah dengan sempurna.

Al-Maaida (5:3) 5-3

Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

  1. Seringnya melakukan maksiat Wajar seseorang akan melakukan maksiat (sesekali). Yang tidak wajar adalah menjadikan dosa tersebut sebagai gaya hidup, karena shaytan akan terus menggoda anak keturunan adam untuk bermaksiat sampai hari kiamat.

Hadith

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ. “Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” Referensi : https://almanhaj.or.id/9396-setiap-anak-adam-alaihissallam-pasti-bersalah.html

Yaseen (36:60) 36-60

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, ۞ أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Selain itu, maksiat menunjukkan kurangnya rasa takut seseorang terhadap Allah.

2. Yang hukumnya mustahab atau dianjurkan

  1. Meninggalkan perkara makruh
  2. Meninggalkan perkara syubhat

Hadith

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

  1. Meninggalkan yang mubah secara berlebihan
  2. Senantiasa menggantungkan kebutuhannya kepada Allah

Hadith

عَوْفُ بْنُ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ رضي الله عنه قَالَ:
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً، فَقَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» وَكُنَّا حَدِيثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ، فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» قَالَ: فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا -وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً- وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا» فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ، فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ. 
[صحيح] - [رواه مسلم] - [صحيح مسلم: 1043] Auf bin Mālik Al-Asyja’i -raḍiyallāhu ‘anhu- berkata,
“Kami sedang duduk bersembilan, berdelapan, atau bertujuh bersama Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, ‘Apakah kalian tidak mau membaiat Rasulullah?’ Padahal kami baru saja berbaiat. Kami berkata, ‘Bukankah kami sudah membaiatmu, wahai Rasulullah?’ Beliau kembali bersabda, ‘Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?’ Lantas kami mengulurkan tangan sambil berkata, ‘Kami membaiatmu, wahai Rasulullah. Untuk hal apa kami berbaiat kepadamu?’ Beliau bersabda, ‘Kalian akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menunaikan salat lima waktu, melakukan ketaatan -beliau membisikkan satu kalimat-, dan tidak meminta sesuatu pun kepada manusia!’ Sungguh, aku melihat sebagian orang-orang itu, cambuk milik seorang mereka jatuh dan ia tidak mau meminta bantuan kepada orang lain untuk mengambilkan cambuknya.” (Shahih riwayat Muslim)

Contoh orang dengan tingkatan tinggi dalam mentauhidkan Allah adalah Nabi Ibrahim

Kitab At Tauhid, p.27

An-Nahl (16:120) 16-120

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan, إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Orang-orang yang bertauhid

Kitab At Tauhid, p.27

Al-Muminoon (23:59) 23-59

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka, وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

Ciri-ciri orang yang masuk surga tanpa hisab

Husain ibn Abdurrahman & Sa’id ibn Zubair keduanya adalah tabi’in, kemudian Sa’id menceritakan tentang hadith yang ia dengar bahwa seharusnya seseorang tidak minta di ruqiyah.

Kitab At Tauhid, p.29 tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu.”

Kitab At Tauhid, p.29 “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka.”

Faidah hadith yang panjang ini

  • Tidak ingin dipuji melakukan ibadah, terutama yang tidak ia lakukan
  • Cara menyampaikan tidak menyalahkan