Bab 13 - Meminta Perlindungan Kepada Selain Allah Adalah Syirik

Penulis ingin menjelaskan salah satu bentuk kesyirikan adalah meminta perlindungan kepada selain Allah. Sebagian orang meminta perlindungan kepada jin atau jimat dengan harapan benda-benda tersebut memberikan perlindungan kepadanya.

Rasulullah ﷺ bersabda

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad 4: 156. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 492).

Rasulullah Shallalahu „alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jampi-jampian, jimat-jimatan dan pelet (guna-guna) adalah syirik”. (HR. Abu Dawud)

Ini adalah masalah penting sampai Rasulullah ﷺ berlepas diri darinya.

Transclude of Hadis-Wahai-Ruwaifi'!-Bisa-jadi-kamu-akan-berumur-panjang,-karena-itu,-beritahukanlah-kepada-orang-orang-bahwa-siapa-yang-mengikat-jenggotnya,-atau-memasang-jimat,-atau-beristinja-dengan-kotoran-binatang-atau-tulang,-maka-sesungguhnya-Muhammad-b#^0d8e6e

Al Isti’adzah

Isti’adzah Adalah ibadah dalam rangka meminta perlindungan. Dalam konteks syariat, ketika Allah menmerintahkan sesuatu, maka itu adalah ibadah, sebagaimana yang disebutkan dalam surat-surat dalam Al-Qur’an;

Fussilat (41:36) 41-36

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Al-Falaq (113:1) 113-1

Katakanlah:“Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

An-Naas (114:1) 114-1

Katakanlah:“Aku berlindung kepada Tuhan manusia. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Terdapat riwayat dari seorang sahabat, bahwa Rasulullah, sebelum turunnya surat Al Falaq & An-Nas, memiliki bacaan-bacaan yang sering beliau baca untuk melindungi dirinya. Namun, setelah kedua surat ini turun, beliau meninggalkan bacaan-bacaan tersebut dan mengamalkan dengan teguh kedua surat ini. Ini menunjukkan keagungan dan pentingnya surat ini. Surat Al-Falaq melindungi manusia dari keburukan yang dzhahir, dan surat An-Nas melindungi manusia dari keburukan dari dalam dirinya sendiri.

Intinya, isti’adzah bukanlah sekedar meminta pertolongan, tapi terdapat nilai ibadah di dalamnya.

Isti’adzah adalah ibadah karena isti’adzah adalah bagian dari doa, bahkan hakikat dari isti’adzah adalah berdoa. Dan Nabi mengatakan bahwa inti dari ibadah adalah doa:

Doa adalah Ibadah

Hadits #1465

عَنِ النُّعْمَانَ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النِّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

[HR. Abu Daud, no. 1479; Tirmidzi, no. 2969; Ibnu Majah, no. 3828; Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 714. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali menyatakan bahwa hadits ini shahih].

Link to original

Macam-Macam Al-Isti’adzah

1. Isti’adzah Syar’iyah

Isti’adzah yang dilakukan ketika seseorang meminta perlindungan kepada Allah ﷻ. Dalilnya sebagaimana yang telah disebutkan pada poin-poin di atas dan tambahannya adalah:

Al-Muminoon (23:97) 23-97

Dan katakanlah:“Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ

Dan Rasulullah telah memberikan contoh-contoh doa perlindungan sebagaimana yang biasa kita dapati pad dzikir-dzikir pagi dan petang.

2. Isti’adzah Syirkiyah

Isti’adzah yang dilakukan ketika seseorang meminta perlindungan kepada makhluk. Dan ini ada 3 macam: 1. Isti’adzah bi Ghaib: Ketika seseorang meminta perlindungan kepada makhluk ghaib atau sesuatu yang tidak hadir, baik apabila orang ini sudah mati atau masih hidup. 2. Isti’adzah bi Mayyit: Ketika seseorang meminta perlindungan kepada orang yang sudah wafat. 3. Isti’adzah bi Hayyin: Ketika seseorang meminta perlindungan kepada yang hidup dan hadir dalam perkara yang tidak mungkin bisa diwujudkan kecuali dengan kuasa Allah. 4. Pada saat seorang hamba menggantungkan hatinya kepada makhluk.

3. Isti’adzah Mubahah

Isti’adzah yang dilakukan ketika seseorang meminta perlindungan kepada orang yang hadir dalam perkara yang mubah atau dibolehkan. Kapan menjadi mubah?

  1. Hadir
  2. Hidup
  3. Mampu dilakukan oleh makhluk tersebut
  4. Harus meyakini kebaikan atau keburukannya datang hanya dari Allah. Orang ini hanyalah sekedar sebab dan yang memberikan manfaat/mudharat hanyalah Allah, sehingga hatinya tertuju kepada Allah.

Dalil

1. Ketika Aisyah cemburu dengan Shafiyyah

Aisyah berkata, “aku tidak pernah melihat orang yang pandai memasak seperti halnya Shafiyyah Suatu hari, dia membuatkan makanan untuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم ., yang ketika itu beliau sedang berada di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena cemburu. Lalu aku memecahkan wadah makanan milik Shafiyyah itu. Maka aku melihat wajah Nabi صلى الله عليه وسلم sedang marah, dan aku berkata “Aku berlindung kepada Rasulullah untuk mencelaku hari ini”

Para ulama mengatakan beristi’adzah kepada Rasulullah diperbolehkan selama beliau masih hidup.

2. Ketika Abu Mas’ud sedang memukul budaknya, dan budak tersebut berteriak “Aku berlindung kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم“*

Hadits Muslim No. 1659 | Bab Persahabatan dengan Budak dan Kaffarah bagi yang Memukul Hambanya

Bab Persahabatan dengan Budak dan Kaffarah bagi yang Memukul Hambanya

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، - يَعْنِي ابْنَ زِيَادٍ - حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ أَبُو مَسْعُودٍ الْبَدْرِيُّ كُنْتُ أَضْرِبُ غُلاَمًا لِي بِالسَّوْطِ فَسَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ خَلْفِي ” اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ ” . فَلَمْ أَفْهَمِ الصَّوْتَ مِنَ الْغَضَبِ - قَالَ - فَلَمَّا دَنَا مِنِّي إِذَا هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَإِذَا هُوَ يَقُولُ ” اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ ” . قَالَ فَأَلْقَيْتُ السَّوْطَ مِنْ يَدِي فَقَالَ ” اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ أَنَّ اللَّهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلاَمِ ” . قَالَ فَقُلْتُ لاَ أَضْرِبُ مَمْلُوكًا بَعْدَهُ أَبَدًا .

Abu Mas’ud al-Badri melaporkan: Saya sedang memukul budak saya dengan cambuk ketika saya mendengar suara dari belakang saya: “Ketahuilah, Abu Mas’ud”; tetapi saya tidak mengenali suara itu karena kemarahan yang sangat. Dia (Abu Mas’ud) melaporkan: Ketika dia mendekat kepada saya (saya mendapati) bahwa dia adalah Rasulullah (ﷺ) dan dia berkata: “Ketahuilah, Abu Mas’ud; ketahuilah, Abu Mas’ud.” Abu Mas’ud berkata: Saya melemparkan cambuk dari tangan saya. Kemudian dia (Nabi yang Mulia) berkata: “Ketahuilah, Abu Mas’ud; sesungguhnya Allah lebih berkuasa atasmu daripada kamu atas budakmu.” Saya (kemudian) berkata: Saya tidak akan pernah memukul pelayan saya di masa depan.

Link to original

3. Seorang pencuri wanita dari Bani Makhzum meminta perlindungan pada Ummu Salamah

Hadits - Hadits Tazkia

Sunan Nasa’i #4808

سنن النسائي ٤٨٠٨: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْدَانَ بْنِ عِيسَى قَالَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ سَرَقَتْ فَأُتِيَ بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَاذَتْ بِأُمِّ سَلَمَةَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَتْ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ لَقَطَعْتُ يَدَهَا فَقُطِعَتْ يَدُهَا

Sunan Nasa’i 4808: Telah mengkhabarkan kepada kami [Muhammad bin Ma’dan bin Isa], dia berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin Al A’yan], dia berkata: telah menceritakan kepada kami [Ma’qil] dari [Abu Az Zubair] dari [Jabir] bahwa seorang wanita dari Bani Makhzum mencuri, kemudian dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia meminta perlindungan kepada Ummu Salamah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dia adalah Fathimah binti Muhammad niscaya akan saya potong tangannya.” Kemudian tangan wanita tersebut dipotong.

Grade

Abu Thahir Zubair ‘Ali Zai : Shahih,

Link to original

Dalil Bab 13 Kitab Tauhid

Kitab At Tauhid, p.75

Al-Jinn (72:6) 72-6

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

  • Pada ayat ini Allah menjelaskan fakta yang terjadi di zaman jahiliyyah, suka meminta perlindungan kepada jin. Disebutkan oleh para ulama tafsir diantaranya Imam Al-Qurtubi mengatakan kebiasaan orang-orang arab jahiliyyah ketika sedang melewati suatu lembah dulu berdoa “Aku berlindung kepada pimpinan lembah ini dari keburukan kaumnya yang bodoh”. Dan Allah mengatakan jin-jin ini menambahkan dosa dan kesalahan.
  • Terdapat 2 tafsir makna kata رَهَقٗا:
    1. Jin menambahkan bagi mereka (manusia) dosa dan kesalahan & menambahkan bagi mereka rasa takut dan kekhawatiran
    2. Manusia menambah bagi mereka (jin) kesombongan dan keangkuhan. dan para ulama mengatakan kedua tafsiran ini benar.

Al-An'aam (6:128) 6-128

Dan hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya:“Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia:“Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman:“Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Maksud dari ayat ini:

  • Manusia memberikan kesenangan kepada jin, berupa pengagungan seperti persembahan/sesajen.
  • Jin memberikan kesenangan kepada manusia, berupa perlindungan/pertolongan. Terkadang jin memberitahukan sesuatu kepada manusia. Namun, informasi yang diberikan rasio dusta & kebenarannya nya adalah 100 : 1.

Kitab At Tauhid, p.75

Musnad Ahmad 25871: Khaulah bint Hakim berkata: “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu tempat lalu ia mengatakan A’UUDZU BIKALIMAATILLAHIT TAAMMAH MIN SYARRI MAA KHALAQ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari keburukan yang Dia ciptakan) ’, maka ia tidak akan diganggu sesuatu pun hingga ia pergi darinya.Sumber

  • Dapat diucapakan ketika singgah ke sebuah tempat
  • Boleh dibaca ketika masuk ke dalam rumah
  • Saat kita berhenti di suatu tempat saat safar
  • Dibaca di sore hari, sesuai dengan riwayat lain:

    Sunan Ibnu Majah 3509: Telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Bahram] telah menceritakan kepada kami [‘Ubaidullah Al Asyaja’i] dari [Sufyan] dari [Suhail bin Abu Shalih] dari [Ayahnya] dari [Abu Hurairah] dia berkata: Seorang laki-laki di sengat kalajengking hingga ia tidak dapat tidur pada malam harinya, lantas dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Fulan telah di sengat kalajengking hingga ia tidak dapat tidur di malam harinya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sekiranya menjelang sore harinya ia mengucapkan: A’UUDZU BIKA BIKALIMAATILAHITTAAMMTI MIN SYARRI MAA KHALAQA (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya), niscaya sengatan kalajengking tersebut tidak akan membahayakannya sampai pagi. Sumber

Kenapa harus dibaca 3x?

Diriwayatkan ini merupakan kebiasaan Rasulullah ﷺ untuk selalu mengulang suatu doa sebanyak 3x. Dan ini merupakan sunnah karena ini dicontohkan oleh beliau. Namun Shaikh Ibn Baz & Shaikh Sulaiman Ar Ruhaily mengatakan tidak mengapa untuk mengucapkannya 1, 2 atau 3 kali.

Faedah

Berlindung kepada sifat-sifat Allah pada hakikatnya adalah berlindung kepada Allah.