﷽
Mukaddimah
- Menuntut ilmu adalah amalan yang mulia
- Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan, maka Allah akan menjadikan ia mengerti tentang ilmu agama.
- Barangsiapa yang meniti suatu jalan menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.
- Janji-janji Allah inilah yang kita harapkan dengan kita meluangkan waktu untuk belajar ilmu agama.
- Akidah ini mahal dan tidak mungkin seseorang bisa kuat akidahnya tanpa belajar.
- Salah satu buku yang paling bagus yang direkomendasikan para ulama adalah Kitab At Tauhid.
Mengenal penulis adalah bagian dari adab
- Diantara adab seseorang mempelajari suatu ilmu atau karya tulis, adalah mengenal penulisnya.
- Kita tidak boleh sembarangan dalam mengambil ilmu agama.
Imam besar Ahlus sunnah dari generasi Tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata, “Sesungguhnya ilmu agama (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu meraih ketakwaan kapada Allâh), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu.” [6]
Link to original - Banyak buku-buku beliau yang sangat terkenal dan hampir bisa dipastikan semua penuntut ilmu akan menjumpai buku-bukunya.
- Sheikh Muhammad ibn Abdul Wahab adalah tokoh yang banyak didzolimi oleh banyak orang.
- Mengenal beliau adalah usaha kita untuk mengenal bagaimana fitnah-fitnah ini tidak benar.
Biografi
Kelahiran, Masa Kecil & Keluarga
- Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdul Wahhab ibn Sulayman ibn At-Tamimi
- Lahir pada tahun 1115 H / 1703 M di Al-Uyainah, Najd, bagian utara kota Riyadh.
- Dilahirkan ditengah keluarga yang memiliki perhatian pada ilmu agama. Hal ini menjadi faktor, ini adalah taufiq dari Allah bagi keluarga yang memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya.
- Ayahnya adalah seorang mufti dan pernah menjabat sebagai hakim, Sheikh Abdul Wahhab ibn Sulayman.
- Kakek beliau juga adalah mufti di wilayah Najd dan ulama besar pada zamannya, ia juga pernah menjadi hakim, Sheikh Sulayman ibn Ali.
- Paman beliau adalah Sheikh Ibrahim ibn Sulaiman ibn Ali, Sheikh Ahmad ibn Sulaiman ibn Ali. Sepupu beliau Abdurrhaman ibn Ibrahim, dan paman dari pihak ibu adalah Sheikh Saif ibn Muhammad ibn Azzaz. Semuanya adalah ulama.
- Seorang anak akan mencontoh keluarga dan lingkungannya karena itu adalah yang ia lihat setiap hari.
- Semua anak terlahir dalam kondisi fitrah, orang tuanya yang menjadikan ia majusi, nasrani, atau yahudi.
Perhatian terhadap Ilmu Anak-Anak
Hendaklah kita menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu anak-anak karena efeknya akan sengat besar.
- Hal ini membuahkan hasil sehingga sheikh Muhammad berhasil menghafal Qur’an sebelum umurnya genap 10 tahun.
- Sebelum umur 12 tahun sudah baligh dan di usia 12 tahun ia sudah menjadi imam di masjid.
- Ayahnya menikahkan dirinya ketika sudah mampu menjadi imam di masjid.
- Ketika umur beliau 21 tahun, beliau pergi haji. Dan ini adalah awal mula beliau menjadi thalabul ilm.
Menjadi Thalabul Ilm
- Beliau menetap di kota Madinah untuk belajar.
- Diantara gurunya saat menetap di Madinah adalah Sheikh Muhammad Hayat As-Sindi dan Sheikh Abdullah ibn Ibrahim Al-Saif.
- Kemudian beliau pergi ke Bashrah, Iraq dan berguru kepada Sheikh Muhammad Al-Maj’mui.
- Diantara kebiasaan para ulama, rela meninggalkan rumah dan kotanya demi menimba ilmu.
Awal Berdakwah di Bashrah
- Di Bashrah, banyak orang-orang syiah rafidah yang menebar kebencian terhadap sahabat-sahabat nabi. Sehingga sheikh tidak hanya belajar disana tapi juga berdakwah untuk mengajari pemahaman yang benar.
- Ini adalah hakikat menimba ilmu, kita pasti tidak rela jika ilmu tersebut hanya untuk kita, sedangkan banyak orang-orang yang tidak mengetahui.
- Sheikh Muhammad ibn Abdul Wahhab mendapati banyak kemungkaran-kemungkaran terkait dengan kesyirikan di Bashrah, oleh karena itu ia menuliskan buku Kitab At Tauhid untuk mengingkari kemungkaran-kemungkaran tersebut.
- Kitab At-Tauhid adalah buku pertama yang ia tulis ketika ia berumur 24 tahun.
- Tipikal karya tulis beliau ditulis berdasarkan kebutuhan masyarakat pada saat itu, karena tujuannya bukan untuk mendapatkan sesuatu dari tulisan tersebut namun mengingkari kebathilan.
Menuju Kota Az-Zubair & Negeri Syams
- Karena banyak yang tidak menyukai apa yang beliau ajarkan, ia terpaksa pergi ke kota lain di Iraq bernama Az-Zubair.
- Selanjutnya beliau ingin melanjutkan perjalanan ke Negeri Syams, tapi bekalnya habis sehingga beliau tidak bisa melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk kembali ke Madinah.
Pulang
- Beliau sempat singgah di suatu kota bernama Al Ahsa’ dan belajar dengan Syeikh bin Abdul Latif aL-Qodhi As-Syafii’.
- Banyak tuduhan yang dilontarkan kepada beliau bahwa ia tidak mengakui keempat madzhab, dan ini bisa dipatahkan karena ia belajar oleh sheikh ber madzhab syafii.
- Beliau juga belajar kepadah Sheikh Abdullah bin Fairuz Abu Muhammad ibn Al Kahfi
- Beliau kemudian kembali ke Kota Huraibila karena ayahnya pindah kesana, dan di tahun 1153 H ayahnya wafat ketika usia beliau 38 tahun.
- Disebutkan sheikh merantau untuk menuntut ilmu selama 10 tahun.
- Kematian wafatnya membuat ia semakin fokus dan giat untuk berdakwah dan beliau kembali ke Kota Uyainah.
Kondisi Najd
- Pada saat itu, Najd adalah tanah yang kosong, banyak orang-orang yang mengabaikan daerah tersebut.
- Kota Uyainah dimana ia kembali didapatkan banyak kemungkaran (syirik), banyak yang percaya dukun dan sihir dan meninggikan kuburan. Ada juga pohon yang didatangi untuk dimintakan keberkahan.
- Sheikh mulai berdakwah dan mengingkari kesyirikan-kesyirikan yang ada. Disana diyakini ada kuburan mili Zaid ibn Khattab, saudara dai Umar ibn Khatab yang banyak didatangi oleh orang-orang. Sheikh menyerukan dengan lembut “Allah lebih baik daripada Zaid”. Kemudian ia menyarankan kepada pimpinan kota Uyainah pada kala itu Utsman ibn Muhammad ibn Ma’mar untuk meruntuhkan bangunan diatas kuburan Zaid tersebut. Utsman menyetujui saran sheikh kemudian diruntuhkanlah bangunan tersebut. Diriwayatkan sheikh yang meruntuhkannya pertama kali dengan kedua tangannya sendiri karena banyak orang yang takut akan cacat tangannya jika melakukan hal tersebut.
Mengingakri Kemungkaran
Siapapun yang memilki kuasa untuk mengingkari hal yang buruk terutama dalam agama hendaklah melakukannya, terlebih jika orang tersebut memiliki kedudukan.
- Apa yang dilakukan sheikh adalah apa yang diriwayatkan kepada Ali Ibn Abi Thalib oleh Nabi Muhammad.
Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.” (HR. Muslim no. 969).
Link to original - Kabar ini menyebar diantara orang-orang, yang membuat sheikh dikenal.
- Ada wanita yang mengaku berzina dan meminta untuk dihukum kepada pemerintah. Sheikh menyarankan agar wanita ini di rajam karena statusnya sudah menikah, dan pemerintah pun melaksanakan saran hukum tersebut.
- Pimpinan kota Ahsa’ mengancam Utsman ibn Muhammad ibn Ma’mar dan mengatakan Sheikh Muhammad ibn Abdul Wahhab telah melampaui batas dan mengancam pemutusan hubungan ekonomi dengan kota Uyainah jika ia tidak membunuh sang sheikh.
- Beliau adalah sosok yang didzalimi semasa hidup dan setelah wafat, beliau adalah sosok yang panen pahala dari hal ini diluar kontribusinya kepada agama islam yang begitu luas.
Terusir dan Pindah
- Demi menjaga kemashlahatan, Utsman, tidak ingin membunuh sheikh, mempersilahkan sheikh untuk keluar dari kota Uyainah. Diusir secara halus.
Konsekuensi Menyebarkan Kebenaran
Ketika kita menyerukan terhadap kebenaran, akan ada selalu orang yang tidak menyukai apa yang kita bawakan dan konsekuensinya bisa besar. Perjuangan Sheikh Muhammad bukanlah perjuangan yang paling berat, Nabi kita Muhammad pun mengalami pengusiran dari Makkah yang menjadikan awal hijrahnya ke Madinah. Jika kita telusuri banyak Nabi-Nabi yang juga keluar dari kota asalnya, seperti Nabi Musa.
- Sheikh pindah ke Dir’iyah dengan berjalan kaki. Disana ada murid-murid beliau Abdurrahman ibn Sulaym dan sepupunya, Ahmad ibn Sulaym. Selama perjalanan ia membaca doa yang terdapat di akhir ayat 2 dan sepanjang ayat 3 surat At-Talaq.
Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yangNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
- Murid-muridnya mengajak keluarga dan tetangga-tetangganya untuk mendengarkan ilmu dari sheikh. Perlahan-lahan orang-orang di Dir’iyah mulai memahami Islam yang sesuai dengan sunnah. Sampai-sampai kajian beliau diketahui oleh kedua saudara pimpinan kota Dir’iyah kala itu Muhammad ibn Su’ud. Nama kedua saudaranya adalah Thunayan ibn Su’ud dan Bisyari ibn Su’ud.
- Da’wah ini pun sampai kepada istri Muhammad ibn Su’ud, perempuan yang shalihah, Mudhy Alkatiri yang menyampaikan da’wah sheikh kepada suaminya. Ialah yang meminta agar suaminya yang bertemu dengan sheikh. Awalnya Muhammad ibn Su’ud ingin menyuruh sheikh untuk datang kerumahnya, namun istrinyalah yang melarang dan mengatakan seharusnya ia yang pergi ke rumah sheikh.
- Setelah berbicara, mereka sepakat untuk saling bantu membantu dalam menegakkan agaman Allah. Muhammad ibn Su’ud memiliki dua syarat atas dukungannya:
- Sheikh tidak boleh pindah ke kota lain
- Sheikh tidak melarangnya untuk memungut pajak dari hasil bumi
Cikal Bakal Saudi Arabia
- Respon sheikh terhadap hal ini adalah mengiyakan poin pertama ‘berdarah bersama, hancur bersama’, dan terhadap hal yang kedua sheikh berdoa kepada Allah agar sang pemimpin diberikan wilayah kekuasaan yang luas supaya tidak perlu lagi memungut pajak dari rakyatnya.
- Mereka pun sepakat untuk memajukan kota Dir’iyah. Sebagian ahli sejarah mengatakan dulu penduduk kota Dir’iyah malas, namun setelah kedatangan sheikh dan kolaborasi antara sheikh dengan pemerintah, semakin banyak orang yang menjadi produktif, beraktivitas setelah shalat subuh. Wilayah Dir’iyah menjadi berkah.
- Orang-orang berdatangan ke Dir’iyah untuk belajar kepada sheikh. Banyak orang sampai pindah ke kota tersebut dan wilayahnya semakin besar.
- Bahkan, Utsman ibn Muhammad ibn Ma’mar mengajak sheikh untuk kembali ke Uyainah. Namun sheikh menolak karena telah berjanji dengan Muhammad ibn Su’ud.
- 2 fondasi yang ditanamkan oleh Muhammad ibn Su’ud, dan Sheikh Muhammad ibn Abdul Wahhab.
Wafat
- Kesepakatan antara sheikh dan Muhammad ibn Su’ud terjadi di tahun 1157 H / 1744 M ketika umur sheikh adalah 42 tahun.
- Beliau wafat di umur 92 tahun pada tahun 1206 H / 1792 M.
- Dakwah beliau didukung selama 50 tahun.
- Disebutkan ketika beliau wafat tidak mewariskan harta sama sekali. Warisan yang beliau tinggalkan adalah ilmu yang bermanfaat.
- Selanjutnya kepemimpinan Dir’iyah dilanjutkan oleh anak keturunan Muhammad ibn Su’ud sampai dengan Raja Salman di Saudi Arabia sekarang. Dilain sisi, banyak dari keturunan sheikh yang menjadi ulama-ulama besar. Ulama-ulama yang merupakan keturunan sheikh disematkan Ahlu Sheikh diakhir namanya.
Apakah aqidah dari Sheikh Muhammad ibn Abdul Wahhab?
Sheikh berkata:
“Adapun yang dikatakan tentang diriku, sesungguhnya aku tidak memiliki aqidah berdasarkan kebodohan (hawa nafsu), Segala puji hanya bagi Allaah dan kekuatan datang dari Allaah. Sesungguhnya aku mendapat hidayah dari Tuhanku untuk berjalan di sirothol mustaqim. Dan agama ini adalah agama yang lurus, agamanya nabi ibrahim dan bukan agama yang melakukan kesyirikan. Dan aku tidak pernah berdakwah kepada madzhab sufi atau ahli faqih tertentu, bahkan aku juga tidak pernah berdakwah kepada imam - imam yang diagungkan (Imam ibnul Qoyyim, Imam Ad-dzahabi, Imam Ibnu Katsir dan lainnya). Akan tetapi aku berdakwah kepada Allaah, tidak ada sekutu bagiNya dan aku berdakwah kepada Sunnah Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam yang telah diwasiatkan bagi umat yang pertama atau umat yang terakhir. dan aku berharap agar aku selalu menerima kebenaran dan tidak menolaknya jika datang kepadaku, dan aku bersaksi kepada Allaah dan kepada malaikat dan kepada seluruh makhlukNya, jika ada kebenaran datang kepadaku, aku akan menerimanya. Dan aku siap melemparkan pendapatku, bahkan pendapat orang - orang yang aku ikuti demi untuk mengikuti Rasullullah shollallahu ‘alaihi wassalam, karena beliau tidak akan mengucapkan kecuali kebenaran.”
Anak-anak beliau mengatakan:
Madzhab kita adalah dalam keyakinan agama madzhab Ahlus sunnah wal jama’ah, dan cara beragama kami adalah cara beragamanya para salaf, yaitu menetapkan ayat-ayatNya, sifat - sifatNya dan hadist - hadistNya sesuai dengan dzohirnya dan dalam perkara fiqih kita berada diatas madzhab Imam Ahmad bin Hambal, dan kita tidak mengingkari orang yang bertaqlid kepada imam yang 4. Kemudian, kami memahami Al-Qur’an dengan menggunakan buku - buku tafsir yang tersebar dikalangan masyarakat, diantaranya yang paling bagus adalah Tafsir Ibn Jarir, ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lainnya. Dan untuk memahami hadist - hadist nabi, kami menggunakan rujukan para ulama (Ibnu Hajar, Imam Muslim, dll) dan kita semangat membaca buku-buku hadist khususnya kutubus sittah dan penjelasannya, dan kita membaca buku - buku lain yang ditulis para ulama diberbagai bidang ilmu…
Kesimpulan
Tidak ada yang aneh dengan aqidah beliau, baliau diatas madzhab Ahlus sunnah wal jama’ah, Mengikuti pemahaman para Salaf, mengagungkan Al-Qur’an dan Hadist, berdakwah kepada tauhid, memperingatkan kepada kesyirikan, senantiasa menebarkan Sunnah nabi Shollallahu ‘alaihi wassallam
Lantas mengapa banyak yang menentang ajaran beliau? Tuduhan-tuduhan dusta yang tidak didasari ilmu yang sesungguhnya.