Hadis mengenai disembelihnya kematian
Dari sahabat Abu Saโid Al-Khudri radhiyallahu โanhu, bahwa Nabi shallallahu โalaihi wasallam bersabda,
ููุคูุชูู ุจูุงููู ูููุชู ููููููุฆูุฉู ููุจูุดู ุฃูู ูููุญู ููููููุงุฏูู ุจููู ู ูููุงุฏู: ููุง ุฃููููู ุงููุฌููููุฉู! ููููุดูุฑูุฆูุจููููู ููููููุธูุฑููููู, ูููููููููู: ูููู ุชูุนูุฑููููููู ููุฐูุง ุ ูููููููููููููู: ููุนูู ู, ููุฐูุง ุงููู ูููุชู, ูููููููููู ู ููุฏู ุฑูุขูู, ุซูู ูู ููููุงุฏูู ู ูููุงุฏู: ููุง ุฃููููู ุงููููุงุฑู ููููุดูุฑูุฆูุจููููู ููููููุธูุฑููููู, ูููููููููู: ูููู ุชูุนูุฑููููููู ููุฐูุง ุ ูููููููููููููู: ููุนูู ู, ููุฐูุง ุงููู ูููุชู ูููููููููู ู ููุฏู ุฑูุขูู ููููุฐูุจูุญู ุจููููู ุงููุฌููููุฉู ููุงููููุงุฑู ุซูู ูู ูููููููู: ููุง ุฃููููู ุงููุฌููููุฉู ุฎูููููุฏู ูููุงู ู ูููุชู, ููููุง ุฃููููู ุงููููุงุฑู ุฎูููููุฏู ูููุงู ู ูููุชู
โKematian didatangkan dalam bentuk kambing berkulit hitam putih. Lalu, ada penyeru yang memanggil, โWahai penduduk surga!โ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, โApakah kalian mengenal ini?โ Mereka menjawab, โYa, itu adalah kematian.โ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil, โWahai penduduk neraka!โ Mereka menengok dan melihat. Penyeru itu berkata, โApakah kalian mengenal ini?โ Mereka menjawab, โYa, itu adalah kematian.โ Mereka semua telah melihatnya. Kemudian kematian disembelih di antara surga dan neraka. Lalu penyeru berkata, โWahai penduduk surga, kekekalan dan tiada lagi kematian setelahnya, dan wahai penduduk neraka, kekekalan dan tiada lagi kematian setelahnya.โโ(HR. Bukhari dan Muslim)
Memahami makna hadis dengan benar
Banyak manusia merasa bingung dengan makna hadis ini. Karena kematian adalah hal abstrak dan penyembelihan tidak bisa dilakukan untuk hal yang sifatnya abstrak. Penyembelihan hanya bisa dilakukan untuk benda yang berwujud, sementara kematian tidak ada wujudnya. Dengan demikian, bagaimana caranya kematian bisa disembelih?
Terdapat beberapa penjelasan dalam memahami hadis ini untuk menjawab hal yang dianggap membingungkan tersebut:
Pertama: Ada yang mengatakan bahwa yang dimaskud kematian dalam hadis di atas adalah malaikat maut. Sehingga yang disembelih bukanlah kematian, akan tetapi malaikat maut.
Kedua: Ada yang memberi penilaian dhaif terhadap hadis di atas. Ini adalah pekataan sekte Muโtazilah.
Ketiga: Ada yang menjelaskan bahwa yang dimaksud menyembelih di sini hanya makna kiasan, bukan menyembelih dalam arti sebenarnya karena hal yang abstrak tidak bisa disembelih.
Keempat: Allah mengubah kematian yang merupakan hal abstrak menjadi bentuk konkret yang berwujud, kemudian disembelih. Penyembelihan yang dilakukan berkaitan dengan kematian yang telah berubah bentuk dari abstrak menjadi konkret dan memiliki wujud.
Tiga penjelasan pertama tidaklah tepat. Penjelasan yang paling benar adalah penjelasan yang terakhir. Sebagian ulama memberikan penjelasan tambahan bahwa kematian pada asalnya adalah merupakan jasad yang berwujud yang bisa dikenali oleh orang yang telah meninggal. Oleh karena itu, penduduk surga dan penduduk neraka mengenalnya. Ketika ditanyakan kepada mereka, โApakah kalian mengenal ini?โ Para penduduk surga dan neraka manjawab, โYa, kami mengenalnya.โ Bagi mereka, wujud kematian pada saat itu bukan sesuatu yang aneh dan asing sehingga mereka bisa mengenalinya.
Ada benda-benda yang tidak bisa kita lihat saat ini. Jin adalah jism (memiliki wujud), namun kita tidak bisa melihatnya. Begitu juga ruh adalah jism, namun kita tidak dapat melihatnya. Oleh karena itu, bukan perkara yang aneh dan asing jika orang yang sudah meninggal bisa melihat kematian dalam bentuk jism, sementara kita saat ini tidak bisa melihatnya.
Baca Juga: Memperingatkan Neraka tapi Malah Masuk Neraka
Faedah hadis
Di antara faedah hadis yang mulia di atas adalah:
Pertama: Wajib memahami makna hadis sesuai zahirnya, tanpa melakukan takwil dengan menyelewengkan maknanya.
Kedua: Allah MahaKuasa atas segala sesuatu, termasuk menjadikan kematian bisa disembelih di akhirat kelak.
Ketiga: Penduduk surga dan neraka akan kekal karena setelah itu tidak akan ada lagi kematian
Keempat: Hadis di atas menjadi dalil tentang keabadian surga dan neraka.
Kelima: Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat dengan banyak beramal saleh
Penulis: Adika Mianoki
Artikel: www.muslim.or.id
Referensi:
Al-โUquud Adz-Dzahabiyyah โalaa Maqaasid Al-โAqiidah Al-Waasithiyyah karya Syekh Dr. Sulthon bin โAbdirrahman Al-โUmairi
Alumni dan pengajar Maโhad Al Ilmi, S1 Kedokteran Umum UGM, penulis buku โJawaban 3 Pertanyaan Kuburโ
Artikel Selanjutnya