Bab 5 - Dakwah Kepada Syahadat La Ilaha Illallah

Ketika seseorang mengetahui hakikat tauhid (bab 1), mempelajari keutamaan tauhid, dan bahaya kesyirikan, maka ia tidak hanya mencukupkan dirinya hanya untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, seharusnya ini menjadikan kita semangat untuk menyebarkan dakwah tauhid kepada orang-orang disekitar kita.

Jalannya Nabi Muhammad adalah Dakwah Tauhid

Kitab At Tauhid, p.37

Yusuf (12:108) 12-108

Katakanlah:“Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ketika ketika mendapatkan nikmat agama, maka ceritakan kepada orang lain agar mereka mendapatkan nikmat yang sama. Jika kita memperingatkan orang lain dalam hal dunia, lantas bukankah nikmat tauhid lebih pantas untuk diberitahu?

Ad-Dhuhaa (93:11) 93-11

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

An-Nahl (16:36) 16-36

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat:“Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan. وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Al-Anbiyaa (21:25) 21-25

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya:“Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Al-A'raaf (7:59) 7-59

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata:“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya, aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar. لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Al-A'raaf (7:65) 7-65

Dan kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata:“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” ۞ وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Al-A'raaf (7:73) 7-73

Dan kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata:“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”. وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dakwah yang mereka lakukan mengajak manusia kepada Allah

Diantara fondasi dalam berdakwah adalah mengajak manusia kepada Allah, bukan kepada diri kita, kelompok tertentu, golongan tertentu. Sehingga ketika kita semisal sebagai pengurus atau panitia kajian dan ada kajian lain yang lebih ramai, kita tidak boleh hasad karena kita sedang mendakwahkan kepada Allah, bukan kepada diri kita atau majlis taklim kita. Hendaknya bersihkan hati dari perasaan-perasaan seperti ini.

Al-Hajj (22:20) 22-20

Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit. يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ

Al-Hajj (22:67) 22-67

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan ini dan serulah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ

Al-Ahzaab (33:45) 33-45

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Al-Ahzaab (33:46) 33-46

dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

Al-Qasas (28:87) 28-87

Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ ۖ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dakwah yang dilakukan harus diatas ilmu

Tidak boleh seseorang melakukan dakwah tanpa ilmu yang cukup tentang dakwah tersebut. بَصِيرَةٍ disini artinya diatas ilmu. Dan ini mencakup 3 ilmu:

  1. Ilmu Syar’i
  2. Ilmu tentang keadaan orang yang sedang di-dakwahkan
  3. Ilmu tentang metode dakwah

Sesungguhnya orang yang tidak memiliki tidak bisa memberi Maka seseorang baiknya belajar dulu agar bisa memberikan ilmu kepada orang lain.

Selaini itu, kita memang dilarang untuk mengatakan tentang agama apa yang tidak kita ketahui, sebagaimana firman Allah:

Al-A'raaf (7:33) 7-33

Katakanlah:“Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Para ulama mengatakan dakwah ini ada tingaktannya. Ada yang akan tampil di depan umum dengan cakupan yang luas, yang ini kita harus berilmu dulu dan tidak bisa sembarangan. Sedangkan ada yang cakupannya terbatas dan ini wajib bagi setiap muslim. Misalnya kita mengadakan kajian di komplek kita.

Nasihat: jangan sia-siakan jika kita memiliki status sosial tertentu, gunakanlah itu sebagai kesempatan untuk berdakwah kepada orang lain.