Bab 2 - Keistimewaan Tauhid Dan Dosa-Dosa Yang Diampuni Karenanya

Diantara keutamaan tauhid adalah mendapatkan keamanan dan petunjuk

Kitab At Tauhid, p.21

Al-An'aam (6:82) 6-82

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Makna dzalim pada ayat ini adalah kesyirikan, hal ini dikarenakan ketika ayat ini turun, sebagian dari sahabat nabi bertanya siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat dzalim pada dirinya (dosa & maksiat)? Sehingga mereka merasa sulit sekali karena sebagai manusia pasti ada khilafnya. Kemudian Nabi ﷺ berkata sesungguhnya kesyirikan ada kedzaliman yang besar. Jadi bisa disimpulkan keimanan harus luput dari kesyirikan, bukan dosa. Lihat Bebas dari Syirik, Mendapat Rasa Aman dan Petunjuk

Memahami ayat ini berdasarkan ayat-ayat sebelumnya

Di ayat-ayat sebelumnya, QS Al-An’am ayat 74-81

Al-An'aam (6:74-81) 6-74 6-75 6-76 6-77 6-78 6-79 6-80 6-81

Dan di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar,“Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. ۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang yang yakin. وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang dia berkata:“Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:“Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata:“Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata:“Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata:“Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata:“Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata:“Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran?” وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ ۚ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan, padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan, jika kamu mengetahui? وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا ۚ فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Note

Karakteristik orang yang tidak bertauhid adalah menakut-nakuti orang yang bertauhid. Lihatlah respon Nabi Ibrahim adalah tidak takut karena sesungguhnya yang patut ditakuti hanyalah Allah semata-mata. Ketakutan yang sesungguhnya adalah takut terjerumus dalam kesyirikan.

Kenapa kita selalu mengatakan 'berada di atas agama Nabi Ibrahim?'

Karena Nabi Ibrahim adalah bagian dari semua agama, ketiga agama samawi, Nasrani & Yahudi mengakuinya, sampai dengan kaum musyrikin Quraish juga mengatakan hal tersebut, sampai di dalam Ka’bah ada gambaran Nabi Ibrahim & Ismail. Karena Nabi Ibrahim adalah sosok yang diakui semua agama, maka Allah berkata

Aal-i-Imraan (3:67) 3-67 Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Al-Anbiyaa (21:103) 21-103

Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar, dan mereka disambut oleh para malaikat.:“Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”. لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Faidah

Banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita, tidak peduli dengan belajar tauhid, masih melakukan kesyirikan. Alhamdulillah harus bersyukur bahwa kita berada disini dan diberikan petunjuk dan nikmat belajar tauhid.

Balasan bagi orang-orang yang melakukan kebaikan

Yunus (10:9) 10-9

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُوْنَ مِنَ النَّارِ حُبِسُوا بِقَنْطَرَةٍ بَيْنَ الجَنَّةِ وَ النَّارِ فَيَتَقَاصُّوْنَ مَظَالِمَ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا نُقُوا وَ هُذَّبُوا أُذِنَ لَهُمْ بِدُخُولِ الجَنَّةِ فَوَالَّذِي نَفْسِ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ بِمَسْكَنِهِ فِي الجَنَّةِ أَدَلُّ مِنْهُ بِمَسْكَنِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا “Jika orang-orang yang beriman telah selamat dari neraka, mereka ditahan di sebuah jembatan yang terletak di antara surga dan neraka, mereka menyelesaikan urusan-urusan kezhaliman yang pernah terjadi di antara mereka di dunia, hingga apabila mereka telah dibersihkan dan disucikan, maka mereka diizinkan untuk memasuki surga, maka demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggamanNya, sungguh seorang penghuni Surga itu lebih mengetahui tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya dahulu ketika di dunia.” (HR. Bukhari)

Rasa aman dan hidayah sesuai dengan kadar tauhid pada diri seseorang

Para ulama menyebutkan semakin sempurna tauhid semakin sempurna hidayahnya, dan juga sebaliknya.
Nabi Muhammad dulu masih bisa bercanda dengan istrinya, berdiam di masjid padahal masalah banyak. Sedangkan bagaimana dengan kita? Ada satu masalah saja sudah tidak bisa berbuat apa-apa padahal masalahnya tergolong kecil.

Allah akan memasukkan hambanya ke surga

Kitab At Tauhid, p.22 Barangsiapa yang bersyahadat (7) bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat -Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari pada-Nya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Maknanya bisa 2:

  1. Allah akan memasukkan seseorang ke dalam surga sesuai dengan amal perbuatannya.
  2. Allah pasti akan memasukkan seseorang ke dalam surga-Nya walaupun amalnya sedikit.

Bare minimum:

  1. Bertauhid, tidak menyekutukan Allah
  2. Ittiba’ , mengakui dan mengikuti Rasulullah ﷺ, mengikuti apa yang diajarkan dan meninggalkan apa yang tidak dicontohkan beliau.
  3. Tidak menyebutkan bahwa Allah memiliki anak, dan Nabi Isa adalah utusan Allah. Dalam Surat An-Nisa 4-171, berbunyi: Makna dari ‘Kalimat Allah’
  4. Percaya adanya surga dan neraka Cara masuk surga seorang ahlul tauhid:
    1. Masuk surga langsung
    2. Masuk surga setelah masuk neraka

Diharamkannya neraka bagi seorang yang bertauhid

Kitab At Tauhid, p.22 Sesungguhnya Allah ﷻ mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan لا إلهَ إِلاَّ اللهُ dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”

Ada 2 macam maksud dari diharamkannya neraka:

  1. Pengharaman masuk neraka, maksudnya ia tidak masuk neraka sama sekali.
  2. Pengharaman kekal di dalam neraka, maksudnya ia tidak akan selama-lamanya di neraka. Ada hadith nabi yang mengatakan akan ada orang yang bertauhid dan kemudian mereka dikeluarkan dari neraka. Hal ini karena mereka tidak sempat bertaubat dari dosa-dosa besarnya semasa hidup. Namun, karena tauhidnya ia tidak akan kekal berada di dalam api neraka.

    “Adapun penduduk neraka yang mereka merupakan penduduknya, maka sesungguhnya mereka tidak akan mati di dalam neraka dan tidak akan hidup. Tetapi orang-orang yang dibakar oleh neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, maka Allah akan mematikan mereka. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, diizinkan mendapatkan syafaat. Maka mereka didatangkan dalam keadaan kelompok-kelompok yang berserakan. Lalu mereka dimasukkan dalam sungai-sungai di surga, kemudian dikatakan, “Wahai penduduk surga tuangkan (air) kepada mereka!” Maka mereka pun tumbuh sebagaimana tumbuhnya bijian yang ada pada sisa-sisa banjir.” (HR. Muslim, no. 185)

    Link to original

Keutamanan kalimat Laa Ilaa Ha Illallah

(Kitab At Tauhid, p.23) Musa berkata: “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”, Allah berfirman:” ucapkan hai Musa لا إلهَ إِلاَّ اللهُ Musa berkata: “ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”, Allah menjawab:” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya –selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ+ lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Hakim sekaligus menshahihkan-nya).

Disini bukan maksud Nabi Musa meremehkan kalimat tauhid, akan tetapi beliau menginginkan untuk mendapatkan suatu hal yang spesial khusus untuk dirinya.

Dihapusnya dosa karena tauhid

(Kitab At Tauhid, p.23) Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman: “Hai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”

Ibn Rajab mengatakan terkait hal ini:

Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dengan membawa tauhid dan ia membawa dosa sepenuh bumi, maka Allah akan memberikan ampunan sebesar sepenuh bumi pula. Akan tetapi ini semua berkaitan dengan masyi’ah (kehendak) Allah. Akan tetapi pada akhirnya, apabila ia masuk neraka, ia tidak akan kekal di dalamnya. Akan tetapi jika tauhid dan ikhlas nya sempurna, sehingga ia melakukan syarat-syaratnya melalui hati dan lisannya, maka pasti ia akan mendapatkan ampunan. Kemudian ia akan terhalangi untuk masuk neraka sama sekali. Maka barangsiapa yang hatinya mentauhidkan Allah, maka hati yang seperti itu akan membakar seluruh dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. Dan bisa jadi dosa-dosa yang banyak itu berubah menjadi kebaikan. Sesungguhnya tauhid adalah penghancur (dosa) yang paling besar. Kalau seandainya setitik tauhid diletakkan pada gunung dosa & maksiat, maka gunung tersebut akan berubah menjadi pahala.

Tentu Laa ilaa ha illallah ada syarat-syaratnya dan bukan hanya sekedar ucapan.